Selasa, 24 Juli 2012

Renungkan, "Bagaimana Anda diciptakan?" –nangis, nangis–

بسم الله الرحمن الرحيم


Siapakah Anda sehingga berani bersikap sombong di hadapan Allah Azza Wa Jalla? Siapakah Anda sehingga menolak mengenakan jilbab? Siapakah Anda, sehingga enggan mengerjakan shalat dan berjamaah di masjid? Apakah Anda lupa bahwa telah datang kepada Anda beberapa masa ketika Anda tak ada nilainya sama sekali? Allah Subhaanahu Wata’ala berfirman, artinya, “Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedang dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut?” (QS. al Insan: 1).

Perhatikanlah, kalimat al Qur’an menggunakan kata hiinun yang artinya bukan sehari atau dua hari. Al Qur’an juga menggunakan kata min ad-dahri yang artinya ‘dari masa’, dan tidak menggunakan ‘dari beberapa hari’. Maksudnya, wahai orang yang telah didatangi sebuah waktu dari masa ketika Anda belum menjadi apa-apa. Siapakah yang menjadikan Anda? Siapakah yang menjadikan Anda berada di alam semesta ini? Apakah Zat yang menciptakan Anda wajib ditaati atau boleh didurhakai?
Permulaan Anda adalah setetes mani. Renungkanlah wajah dan badan Anda. Perhatikanlah kekuatan, pendengaran, penglihatan, dan rasio. Anda yang telah menikmati semua ini, dari apakah asal Anda? Sesungguhnya, asal Anda adalah dari setetes mani. Allah Azza Wajalla berfirman, artinya, “Dan apakah manusia tidak memerhatikan bahwa Kami menciptakannya dari setitik air (mani)? Maka tiba-tiba ia menjadi penantang yang nyata!” (QS. Yaasin: 77).
Apakah Anda yang dulunya setetes mani sekarang menjadi penantang Allah Azza Wajalla? Allah Subhaanahu Wata’ala berfirman, artinya, “Dan ia membuat perumpamaan bagi Kami; dan dia lupa kepada kejadiannya; ia berkata, “Siapakah yang dapat menghidupkan tulang belulang, yang telah hancur luluh?” Katakanlah, “Ia akan dihidupkan oleh Tuhan yang menciptakannya kali yang pertama, dan Dia Mahamengetahui tentang segala makhluk.” (QS. Yasin: 78-79).
Allah telah menentukan segala komponen dalam diri Anda dan segala unsur dalam pembentukan Anda. Marilah kita mulai dari nuthfah (setetes air mani).
Allah Azza Wajalla menciptakan sel sperma dan menunjukkan jalannya hingga bisa menembus masuk ke dalam ovum. Allah Subhaanahu Wata’ala berfirman, artinya, “Dan bahwasanya, Dialah yang menciptakan berpasang-pasangan laki-laki dan perempuan. Dari air mani, apabila dipancarkan.” (QS. an-Najm: 45-46)
Setetes air mani bisa mengeluarkan laki-laki dan perempuan. Pernahkah suatu hari Anda memikirkan hal ini dan mengingat asal usul Anda? Apa asal-usul Anda, wahai Anda yang berasal dari setetes air mani?
Para ilmuwan berkata bahwa sel sperma yang telah masuk ke ovum akhirnya melebur dan bercampur dengan sel telur. Keduanya menyatu sehingga menjadi sel campuran antara sel sperma dan sel telur. Anda tentu pernah mendengar firman Allah Azza Wajalla, artinya, “Sesungguhnya, Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan ia mendengar dan melihat.” (QS. al Insan: 2).
Sel sperma bercampur dengan sel telur di dalam rahim. Lantas apakah yang dimaksud dengan rahim? Perhatikanlah bagaimana Allah melindungi rahim. Rahim adalah tempat yang dipilih Allah demi penciptaan Anda. Ia dikelilingi tulang rusuk perempuan dari segala penjuru. Namun demikian, tidak hanya tulang rusuk saja yang melindungi rahim, otot-otot yang memperkuat tulang rusuk pun juga melindungi rahim.

Karena begitu kokohnya tulang rusuk dan kuatnya otot yang melindungi rahim, sampai-sampai beberapa dokter berkata, “Jika seseorang hendak membunuh seorang perempuan kemudian merobek-robeknya dengan pisau, niscaya ia tidak akan mampu merobek rahim. Jikalau seorang perempuan terjatuh dari tempat yang tinggi lalu tulang belulangnya patah, maka rahim akan tetap terjaga.” Perhatikan firman Allah Azza Wajalla, artinya, “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim).” (QS. al Mukminun: 12-13).
Wahai, Anda yang berasal dari setetes mani! Wahai, Anda yang dilindungi dalam tempat yang kokoh. Masih beranikah menantang Rabb Anda? Siapakah pelindung Anda?

Wahai, para Ibu! Apakah Anda menjaga para bayi dengan kemampuan Ibu sendiri? Seorang wanita yang melahirkan enam kali atau tujuh kali, namun ia tidak mengetahui sedikit pun, kecuali hanya melahirkan. Perhatikanlah siapa yang menjaga, siapa yang membesarkan janin ini di perut, dan siapa yang melindunginya di tempat yang kokoh?
Betapa lemahnya diri Anda. Bagaimana Anda berani berkata, “Kalahkanlah aku dulu dengan dalil-dalil, karena aku tidak akan menaati Allah Azza Wajalla sebelum aku puas terlebih dahulu dengan dalil-dalil itu.
Lalu bagaimana bisa setelah itu seorang pemuda datang seraya berkata, “Aku tidak mampu meninggalkan dosa. Saya menyesal sekali. Saya tahu, tetapi saya tak mampu meninggalkannya.”
Siapakah Anda sehingga berani berkata tidak kepada Allah. Lihatlah ukuran dan perhatikan asal usul Anda.

Kita renungkan bagaimana Anda berkembang di perut ibu. Cairan putih ini akhirnya bercampur dengan darah merah, sehingga membentuk segumpal darah yang disebut dengan ‘alaqah. ‘Alaqah artinya sesuatu yang tergantung. Sebab, ia tergantung di dinding rahim. Kedokteran modern telah membuktikannya. Dan sebagai kaum muslimin, kita telah mengetahuinya sejak 14 abad silam. Allah Azza Wajalla berfirman, artinya, “Bacalah dengan nama Rabb-mu yang telah menciptakan. Dia menciptakan manusia dari segumpal darah.” (QS. al ‘Alaq: 1-2).
Perhatikanlah pemilihan kata ‘alaqah. Siapa yang mengajari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tentang segumpal darah yang tergantung di dinding rahim sehingga disebut ‘alaqah? Saat Anda sudah menjadi ‘alaqah, apa makanan Anda pada waktu itu? Makanan Anda ialah darah. Darah yang mengalir dari kelenjar pembuluh darah rahim.
Berapakah ukuran panjang ‘alaqah? Panjang ‘alaqah bisa mencapai 2,5 sampai 4 milimeter. Dulu panjang Anda tak lebih dari 4 mm. Namun, mengapa Anda tak ingin mendengar ayat-ayat al Qur’an? Seharusnya seseorang merasa malu jika teringat dosa-dosanya yang telah lalu. Karena, sebelumnya ukurannya hanya 2 sampai 4 mm setelah berada 25 hari di rahim sang ibu.
‘Alaqah kemudian berkembang menjadi segumpal daging (mudghah). Segumpal daging ini mulai saling memisahkan diri. Ada yang di atas yang kelak akan menjadi tempat kepala. Ada potongan yang kelak akan menjadi tulang-tulang. Dan ada potongan yang kelak akan menjadi tangan. Bayangkanlah, subhanallah!

Dahulu Anda seperti itu. Tapi sekarang telah berani berkata, “Tidak, aku belum siap mengenakan jilbab.” Allah Azza Wajalla berfirman, artinya, “Ketahuilah! Bahwa Ia mempunyai hak menciptakan dan memerintahkan.” (QS. al A’raf: 54). Zat yang menciptakan Anda, Dialah yang memerintahkan Anda berjilbab.
Wahai segumpal daging! Berapa ukuran Anda pada waktu itu? Panjang Anda waktu itu tak lebih dari 8 milimeter. Ketika daging ini membesar, ukurannya bisa mencapai 16 mm. Sedikit demi sedikit mulailah terjadi pemisahan daging ini. Subhanallah. Allah Subhaanahu Wata’ala berfirman, artinya, “Sesungguh-nya Kami telah menciptakan kamu (Adam), lalu Kami bentuk tubuhmu.” (QS. al A’raf: 11).
“Hai, manusia! Apakah yang telah memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu yang Mahapemurah, yang telah menciptakan kamu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan tubuh)mu seimbang? dalam bentuk apa saja yang Dia kehendaki, Dia menyusun tubuhmu.” (QS. al Infithaar: 6-8).
Bersamaan dengan umur janin yang menginjak pekan kedelapan, mulailah muncul beberapa otot. Muncul pula kerangka-kerangka besar dan kecil yang dibalut dengan daging yang ringan dan tipis. Allah Azza Wajalla berfirman, artinya, “Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Mahasucilah Allah, Pencipta yang paling baik.” (QS. al Mu’minuun: 14).
Janin ini terus mengalami perkembangan, hingga pada usianya yang ke empat puluh pekan, hadirlah salah seorang hamba dari hamba-hamba Allah Subhaanahu Wata’ala. Kemudian lahirlah seorang anak.
Marilah kita mengingat asal pertama kalinya. Berawal dari setetes mani, hingga keluar menjadi dua mata, dua telinga, lidah yang bisa berbicara, urat-urat saraf, dan seterusnya. Kemudian ia mampu mendengar, berbicara, dan memiliki kemampuan untuk bergerak dan berpikir. Siapakah yang menyuruh mata untuk melihat dan telinga untuk mendengar?

Mengapa Anda tak menggunakan mata Anda memandang hal yang baik padahal Allah yang telah membukakannya? Ketika Anda melihat yang haram, tidakkah Anda malu ketika menghadap Allah Azza Wajalla dan Dia mengatakan kepada Anda, “Apakah Aku belum membukakan pendengaranmu dan membukakan matamu? Apakah kamu masih mendengarkan musik dan lagu-lagu haram dan mendendangkannya?”

Para pemuda maupun pemudi pengguna internet, atau melihat kanal-kanal parabola, dan menyaksikan pemandangan-pemandang-an porno, siapakah yang memberi nikmat mata kepada Anda? Pemuda dan pemudi saling menelpon dengan kata-kata yang bisa mengerutkan kening dan mengundang murka Allah. Demi Allah, siapakah yang menjadikan mereka berbicara dan memberikan mereka lidah?
Pernahkah kita memerhatikan jauhnya diri kita dari Allah setelah Dia menciptakan kita? Padahal asal muasal kita adalah setetes mani yang lemah. Setetes mani yang jika terkena udara sedikit saja, niscaya akan rusak dan mati. Setetes mani ini kemudian dijaga sehingga lahirlah Anda. “Maka Mahasucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik.” (QS. al Mu’minuun: 14).
Wallahu a’lam
(Al Fikrah No.07 Tahun XI/12 Rabiul Awal 1431 H)
====
admin
SANDIWARA-LANGIT
blog: http://www.hame.co.nr
fathia27rhm.multiply.com/reviews/item/173

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar